AipbrNews – Peralihan ekonomi masyarakat pasca tambang menjadi tantangan besar di banyak daerah. Namun, di Kampung Babakan Cengkeh, Desa Cisarua, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, transformasi itu mulai menunjukkan hasil.
Pusat pembelajaran budidaya domba Jaro Farm binaan PT Antam, kini menjadi contoh bagaimana lahan eks tambang dapat dikonversi menjadi sumber ekonomi baru yang berkelanjutan.
Peneliti dari IPB University berkunjung ke Jaro Farm untuk mendiseminasikan teknologi sekaligus menjajaki potensi pemanfaatan lahan pasca tambang untuk ketahanan pangan, Jum’at (14/2).
“Saya kira ini merupakan kemajuan besar. Masyarakat di sini harus dibina agar tidak terus bergantung pada tambang. Sumber daya tambang pasti ada akhirnya, sementara kehidupan harus terus berjalan,” ujar Luki Abdullah, peneliti dari IPB University.
Menurutnya, pemanfaatan lahan bekas tambang menjadi area pertanian dan peternakan adalah solusi nyata guna mendorong ekonomi masyarakat sekitar.
“Domba Jaro Farm bisa menjadi contoh sukses. Dalam empat tahun terakhir, proses branding domba di sini terus berkembang. Harapannya, ini bisa menjadi model peternakan domba di Jawa Barat,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan, IPB University siap membantu pengembangan teknologi, termasuk dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa.
“Kami sudah siapkan teknologi reproduksi dan lainnya. Tinggal bagaimana mengimplementasikannya agar bisa naik kelas,” katanya.
Sementara di tempat yang sama Ketua Kelompok Ternak Jaro Farm, Sudin Gemer, mengungkapkan bahwa beralih dari pertambangan emas ilegal bukanlah keputusan yang ringan.
“Setelah tambang ilegal ditertibkan, kami merasa berat melepas profesi sebagai gurandil (penambang emas liar). Tapi kami sadar, kami harus mencari usaha lain,” ujarnya.
Dengan pendampingan dari program CSR PT Antam dan dukungan pemerintah desa, Sudin akhirnya menemukan peluang baru di bidang peternakan domba.
“Prosesnya panjang, tapi dengan pendampingan yang ada, kami bisa bertahan sampai sekarang,” tuturnya.
Baginya, kembali menjadi gurandil bukanlah pilihan. “Tambang emas suatu saat bisa habis, tapi beternak atau bertani tidak akan ada akhirnya dan akan selalu ada selama kehidupan masih terus berjalan,” pungkasnya. (Dipidi)







